Kabupaten Bantul kembali mengukir prestasi membanggakan di bidang ekonomi kreatif. Daerah ini berhasil meraih Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk produk wayang kulit tatah sungging. Pengakuan ini menjadi yang ketiga kalinya bagi Bantul, setelah sebelumnya mengantongi sertifikat serupa untuk batik nitik dan gerabah Kasongan. Pencapaian ini menegaskan posisi Bantul sebagai pusat kriya unggulan, sejalan dengan statusnya sebagai kabupaten kreatif di bidang kriya yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Proses mendapatkan sertifikat ini memakan waktu hampir satu tahun, melibatkan penilaian terhadap berbagai aspek untuk memastikan keaslian dan karakteristik khas wayang kulit tatah sungging dari Bantul. Dengan adanya sertifikat ini, diharapkan produk wayang kulit tatah sungging Bantul semakin dikenal dan terlindungi dari potensi pemalsuan, serta mampu bersaing di pasar global.
Wayang Kulit Tatah Sungging: Warisan Budaya yang Mendunia
Wayang kulit tatah sungging memiliki akar sejarah yang kuat di Dusun Pucung, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri. Kesenian ini bermula dari sosok Mbah Glemboh, seorang abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang mendapat izin dari Sultan Hamengku Buwono VII untuk membuat wayang. Kegigihan Mbah Glemboh menginspirasi warga sekitar untuk turut belajar, hingga akhirnya berkembang menjadi industri rakyat yang lestari hingga kini. Keterampilan tatah sungging diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan wayang kulit khas Bantul sebagai produk budaya yang bernilai tinggi. Proses pembuatan wayang kulit tatah sungging memerlukan ketelitian dan keahlian khusus. Mulai dari pemilihan bahan baku kulit kerbau, penataan pola, proses penatahan, hingga pewarnaan dan finishing. Setiap langkah dikerjakan dengan cermat untuk menghasilkan karya seni yang indah dan sarat makna. Keunikan wayang kulit tatah sungging terletak pada detail ukiran dan pewarnaannya yang khas, yang mencerminkan kekayaan budaya Jawa.
Peran Sentral Mbah Glemboh dan Perkembangan Industri Rumahan
Keberadaan Mbah Glemboh menjadi titik awal penyebaran seni tatah sungging di Pucung. Beliau tidak hanya menciptakan wayang, tetapi juga mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat sekitar. Hal ini memicu pertumbuhan industri rumahan yang signifikan. Sebelum krisis moneter 1998, tercatat sekitar 1.300 pengrajin wayang kulit tatah sungging di Pucung. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengrajin mengalami penurunan. Saat ini, hanya sekitar 300 pengrajin aktif yang masih bertahan. Meskipun demikian, semangat untuk melestarikan dan mengembangkan seni ini tetap membara. Para pengrajin terus berupaya menjaga kualitas produk dan berinovasi untuk memenuhi selera pasar.
Inovasi dan Peluang Pasar Wayang Kulit Bantul
Para perajin wayang kulit tatah sungging terus berupaya berinovasi dalam berbagai aspek, mulai dari desain, teknik pembuatan, hingga penggunaan bahan. Inovasi ini dilakukan untuk menarik minat pasar yang semakin beragam. Mereka tidak hanya membuat wayang kulit tradisional, tetapi juga mengembangkan produk turunan seperti wayang mini, hiasan dinding, dan suvenir. Inovasi ini penting untuk menjaga daya saing produk di pasar yang semakin kompetitif. Selain itu, para perajin juga memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan produk mereka. Pemasaran secara online memungkinkan mereka menjangkau pasar yang lebih luas, baik di dalam maupun di luar negeri.
Menjangkau Pasar Global: Wayang Kulit dari Bantul
Peluang pasar wayang kulit tatah sungging sangatlah besar, bahkan hingga ke pasar global. Sekitar 60% produk wayang kulit Bantul dipasarkan di luar negeri, seperti Jepang, Prancis, dan Australia. Pasar domestik juga turut menyumbang penjualan, dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Batam, Medan, Bali, Bandung, dan Yogyakarta sebagai tujuan utama. Keberhasilan menembus pasar internasional menunjukkan kualitas dan daya tarik wayang kulit Bantul di mata dunia. Adanya dukungan dari pemerintah daerah dan pengakuan melalui sertifikat indikasi geografis semakin memperkuat posisi Bantul sebagai pusat kriya tradisional yang mampu bersaing di pasar global tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Beli Furniture Gak Perlu Jauh-Jauh, Ada Ajeg Furniture!
Buat warga Jogja dan sekitarnya, kalo nyari furniture berkualitas, harga bersahabat, ya ke Ajeg aja. Banyak promo, bonus, dan diskon tiap minggu 💸
Dari kursi sampai lemari, semua ada — lokal pride, kualitas global.