Meriahnya Menoreh Tourism Festival Kulon Progo 2025: 22 Kontingen Unjuk Budaya!

Meriahnya Menoreh Tourism Festival Kulon Progo 2025: 22 Kontingen Unjuk Budaya!

Menoreh Tourism Festival 2025 di Kulon Progo, sebuah perhelatan budaya tahunan, sukses digelar pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Festival ini menjadi ajang unjuk gigi bagi ratusan pelaku seni dari berbagai penjuru Indonesia. Sebanyak 22 kontingen seni dari beragam daerah seperti Kalimantan, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, turut serta memeriahkan acara. Festival yang didukung oleh Dana Keistimewaan DIY ini, dibuka dengan kirab budaya yang meriah, menyusuri wilayah Pengasih dan Kota Wates. Para peserta menampilkan suguhan seni budaya terbaik mereka, mulai dari tari Cingpoling hingga Tari Campak. Ajang ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kulon Progo. Dengan beragam penampilan seni dan budaya, festival ini menjadi wadah penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat luas.

Kemeriahan Kirab Budaya dan Rute Festival

Kirab budaya menjadi pembuka yang semarak dalam Menoreh Tourism Festival 2025. Perjalanan dimulai dari Taman Budaya Kulon Progo di Pengasih. Rombongan peserta kemudian bergerak ke selatan, melewati simpang tiga Taman Wana Winulang, sebelum akhirnya berbelok ke barat dan tiba di Alun-alun Wates. Sepanjang rute, masyarakat dapat menyaksikan parade kostum, tarian, dan atraksi seni lainnya yang ditampilkan oleh masing-masing kontingen. Rute yang dilalui dipilih sedemikian rupa untuk memperkenalkan keindahan wilayah Kulon Progo kepada para peserta dan juga wisatawan. Kirab ini menjadi simbol semangat persatuan dan kebersamaan, serta menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung festival.

  • Titik Awal: Taman Budaya Kulon Progo.
  • Rute Utama: Pengasih – Simpang Tiga Taman Wana Winulang – Alun-alun Wates.
  • Tujuan Akhir: Alun-alun Wates, tempat penampilan utama.

Ragam Seni Budaya Nusantara di Satu Panggung

Alun-alun Wates menjadi panggung utama bagi para kontingen untuk menampilkan kebolehan mereka. Berbagai jenis seni budaya dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan di sini. Pengunjung dapat menikmati beragam pertunjukan, mulai dari tarian tradisional hingga musik daerah. Beberapa contoh penampilan yang memukau antara lain Tari Cingpoling dari Purworejo, Jawa Tengah, dan Tari Campak dari Bangka Belitung. Keberagaman seni budaya yang ditampilkan menjadi daya tarik utama festival ini, serta memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung. Setiap penampilan menampilkan ciri khas daerah masing-masing, memperkaya khazanah budaya Indonesia dan mempererat rasa persatuan.

Daftar Beberapa Penampilan Unggulan:

  • Tari Cingpoling (Purworejo, Jawa Tengah).
  • Tari Campak (Bangka Belitung).
  • Penampilan Musik Tradisional dari berbagai daerah.
  • Parade Kostum Tradisional.

Dampak Positif Festival Bagi Pariwisata Kulon Progo

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menyampaikan bahwa Menoreh Tourism Festival merupakan ajang strategis untuk mempromosikan pariwisata daerah. Beliau berharap kegiatan ini dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan menikmati keragaman budaya yang ada. Dengan adanya festival ini, diharapkan Kulon Progo dapat lebih dikenal luas, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Selain itu, festival ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Sutarman juga menekankan pentingnya promosi wisata budaya sebagai fokus utama kegiatan ini, serta menekankan bahwa festival ini merupakan kompetisi yang sehat sekaligus ajang silaturahmi budaya antardaerah. Dengan adanya promosi yang gencar, diharapkan Kulon Progo dapat menjadi destinasi wisata budaya yang semakin populer.

Kompetisi dan Penghargaan untuk Apresiasi Seni

Kontingen yang berpartisipasi dalam festival ini bersaing memperebutkan hadiah menarik. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp 77,5 juta, dengan hadiah utama sebesar Rp 20 juta. Penilaian dilakukan oleh lima dewan juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi seni budaya. Penilaian didasarkan pada kualitas seni, kreativitas, dan unsur budaya daerah yang ditampilkan. Kompetisi ini tidak hanya sebagai ajang untuk meraih penghargaan, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas seni budaya daerah. Adanya kompetisi ini juga memotivasi para seniman untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya daerah masing-masing.

Ajeg Furniture

Beli Furniture Gak Perlu Jauh-Jauh, Ada Ajeg Furniture!

Buat warga Jogja dan sekitarnya, kalo nyari furniture berkualitas, harga bersahabat, ya ke Ajeg aja. Banyak promo, bonus, dan diskon tiap minggu 💸

Dari kursi sampai lemari, semua ada — lokal pride, kualitas global.

Total
0
Shares
Related Posts