Pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal 2020 telah memberikan dampak besar pada berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku usaha kuliner di Yogyakarta yang terpaksa menutup usahanya akibat penurunan omzet, terputusnya akses distribusi, dan berkurangnya pelanggan. Di tengah kesulitan ini, muncul sebuah gerakan inspiratif bernama Yuk Tukoni, yang digagas oleh Eri Kuncoro dan Revo Suladasha. Gerakan ini bertujuan untuk membantu UMKM kuliner bertahan hidup dengan cara yang sederhana namun efektif: saling membeli dan mendukung produk-produk lokal. Yuk Tukoni tidak hanya menjadi solusi bagi para pelaku usaha, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana semangat gotong royong dapat memberikan harapan di masa sulit. Melalui pendekatan yang inovatif dan berfokus pada kebutuhan UMKM, Yuk Tukoni berhasil menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan.
Awal Mula Yuk Tukoni: Dari Keresahan Menjadi Solusi
Kisah Yuk Tukoni bermula dari keprihatinan Eri Kuncoro terhadap nasib para pelaku usaha kuliner di sekitarnya. Melihat Pak Amin, penjual mi ayam langganannya, harus pulang kampung karena sepi pembeli, Eri tergerak untuk melakukan sesuatu. Ia menyadari bahwa masalah yang dihadapi UMKM tidak bisa diselesaikan hanya dengan menunggu. Eri melihat pola yang sama terjadi berulang: kebingungan mencari solusi, kesulitan menjual produk, dan kurangnya modal. Dengan pemikiran tersebut, Eri dan Revo memulai dengan mendekati para pelaku usaha di sekitar mereka. Mereka mendengarkan cerita, mengidentifikasi kebutuhan, dan mencoba memahami apa yang menjadi hambatan utama. Dari situlah, ide Yuk Tukoni lahir: sebuah gerakan yang menghubungkan UMKM dengan pembeli tanpa harus keluar rumah. Gerakan ini mengadaptasi konsep marketplace sederhana, fokus pada dukungan komunitas dan pemasaran digital.
Mengatasi Tantangan dengan Inovasi Produk
Salah satu inovasi utama yang dilakukan Yuk Tukoni adalah fokus pada produk makanan beku (frozen food). Eri dan Revo melihat bahwa makanan beku adalah solusi yang tepat di tengah pandemi. Dengan membekukan makanan, penjual dapat tetap menjajakan produk mereka, sementara pembeli merasa lebih aman karena dapat memasak kembali hidangan di rumah. Proses kurasi produk menjadi langkah awal yang penting. Tim Yuk Tukoni menilai kualitas rasa, kebersihan, ketahanan produk, dan potensi untuk dikemas ulang. Jika ditemukan kekurangan, mereka tidak menolak, melainkan memberikan masukan terkait packaging, branding, hingga cara penyajian. Pendekatan ini memberikan “mini inkubasi” bagi UMKM sebelum dipasarkan. Setelah lolos kurasi, produk kemudian di-repackaging dan diberi branding. Tim membuat foto produk yang menarik, menyiapkan kemasan higienis, dan menyertakan panduan memasak. Tujuannya adalah agar produk UMKM bisa bersaing di pasar digital.
Membangun Ekosistem: Dari Saling Beli ke Pemberdayaan
Setelah sistem produksi, pengemasan, dan distribusi berjalan stabil, dampak positif mulai terasa. UMKM yang sebelumnya terpuruk kembali mendapat pemasukan. Pak Amin, penjual mi ayam langganan Eri, batal pulang kampung dan kembali bersemangat berjualan. Mie Ayam Bu Tumini bahkan mencatatkan rekor penjualan hingga 200 porsi per hari. Yuk Tukoni berhasil menciptakan ekosistem ekonomi baru yang hidup dari kebiasaan saling mendukung. Konsumen dapat menikmati makanan lokal favorit, sekaligus membantu UMKM bertahan. Pada tahun 2020, Yuk Tukoni mendapat penghargaan SATU Indonesia Awards atas kontribusinya dalam memberdayakan UMKM di masa pandemi. Hingga kini, semangat Yuk Tukoni masih menyala, terus berupaya mendukung UMKM Yogyakarta dan memperluas jangkauan produk lokal.
Beli Furniture Gak Perlu Jauh-Jauh, Ada Ajeg Furniture!
Buat warga Jogja dan sekitarnya, kalo nyari furniture berkualitas, harga bersahabat, ya ke Ajeg aja. Banyak promo, bonus, dan diskon tiap minggu 💸
Dari kursi sampai lemari, semua ada — lokal pride, kualitas global.